PERALIHAN SEKTOR AGRARIS KE SEKTOR INDUSTRI

PERALIHAN SEKTOR AGRARIS KE SEKTOR INDUSTRI

Kita mengetahui Indonesia adalah

Negara yang dibangun dengan ekonomi yang ditupang oleh sektor pertanian atau agraris yang lebih dominan disbanding sektor industri, perdagangan, dan pertambangan, Karena itu banyak dari sebagian penduduk warga Negara Indonesia berprofesi sebagai petani atau nelayan.

Pada tahun 1983 sektor primer kita adalah pertanian dengan persentase 56% dari total profesi di Indonesia itu membuktikan bahwa Negara ini dibangun dengan ekonomi dengan basis pertanian,dan pada tahun 1998 sektor pertanian masih menduduki persentase 45%, Dan itu membuktikan bahwa sektor pertanian sangat penting dan menentukan perekonomian Indonesia.

Namun seiring berkembangnya zaman, faktor –faktor internal seperti bertambahnya penduduk, dan sempitnya lahan pertanian dan faktor eksternal yaitu kebijakan pemerintah yang memberatkan sektor pertanian menambah terpuruknya sektor pertanian di Indonesia karena lapangan pekerjaan di sektor pertanian juga ikut berkurang, dari hasil survey jumlah rata – rata penguasaan lahn per rumah tangga menunjukkan penurunan pada tahun 1983 hanya 0,58 hektar per rumah tangga dan pada tahun 1993 hanya mencapai 0,47 hektar per rumah tangga.

Banyak dari para petani yang beralasan meninggalkan lahannya dikarenakan pendapatan mereka berkurang dan biaya – biaya yang dikeluarkan untuk perawatan sangat tinggi dari tahun ke tahun,selain itu karena adanya lapangan kerja baru non pertanian yaitu di bidang industri yang lebih menjamin dari segi pendapatan mereka.

Dan akhirnya industrialisasi menggeser aktifitas perekonomian Indonesia yang semula pertanian beralih ke sektor industrial,Dan akan mengubah pola pikir masyarakat akhirnya mengubah kehidupan sosial ekonomi masyarakat pula.

Pertanyaannya adalah haruskan Indonesia harus menuju industrialisasi?

Padahal banyak masalah yang harus dihadapi bangsa kita seperti :

*Permasalahan Industri Manufaktur :

  1. Rendahnya Kualitas SDM
  2. Keterbatasan Teknologi
  3. Terbatasnya dana swasta
  4. Tidak memiliki modal sendiri
  5. Kerjasama antara perusahaan dengan Lembaga Pendidikan, Perguruan tinggi, Diklat, antara perushaan kurang.
  6. Kurangnya dukungan perbankan 1/1bank or konsursium antar bank

Salah satu Indikator untuk Ukur Keterbatasan Teknologi SDM terhadap tingkat produktifitas adalah : TFP (Total Factor Productivity)

Kelemahan Struktural Indutrial Manufaktur :

  1. Basis export & pasar sempit
  2. Ketergantugan pada Import tinggi
  3. Tidak ada Industrial Manufaktur Berteknologi menengah
  4. Konsentrasi Regional

Kelemahan – kelemahan organisasi Industri Manufaktur ;

  1. Konsentrasi pasar didominasi beberapa perushaan
  2. Lemahnya kapasitas untuk menyerap & mengembangkan teknologi
  3. Lemahnya SDM

Penerapan Subtitusi Impor di Indonesia :

  1. Raw material & SDM yang tersedia tidak siap digunakan
  2. Pasar yang dilayani Dalam Negeri tidak dikaitkan dengan barang expor
  3. Tidak ada jaminan  ketergantugan impor lebih rendah
  4. Kesempatan kerja  kecil
  5. Nilai tambah rendah bahkan ada yg kurang
  6.  Permintaan Dalam Negeri besar tapi tidak jelas spesifikasinya.

*Untuk mengantisipasi hal diatas diperlukan langkah

langkah strategi pembangunan sektor  industri di bawah ini :

  1. SDA & Faktor Produksi Dalam Negeri cukup
  2. Mendorong perkembgn indstr DN
  3. Terbuka lapangan kerja Dalam Negeri
  4. Dapat mengurangi ketergantungan Luar Negeri, irit devisa
  5. Pasar agraris harus memberi signal harga yang benar
  6. Tingkat proteksi impor harus rendah
  7. Nilai tukar harus realistis
  8. Pemerintah harus memberikan insentifitas untuk barang export

Sumber : https://duniapendidikan.co.id/