KUALIFIKASI CONTROLLER

KUALIFIKASI CONTROLLER

Kualifikasi controller yang efektif adalah sebagai berikut:

  1. Dasar teknis yang sangat baik dalam akuntansi dan akuntansi biya, disetai suatu pengertian dan pengetahuan yang menyeluruh mengenai prinsip-prinsip akuntansi.
  2. Pemahaman terhadap prinsip-prinsip perencanaan, pengorgnisasian dan pengendalian.
  3. Pemahaman umum mengenadi jenis industry dalam mana perusahaan tergolong dan pemahaman terhadap kekuatan social , ekonomi dan politik yang terlibat
  4. Pemahaman yang mendalam mengenai perusahaan, termasuk teknologi, produk, kebijaksanaan, tujuan sejarah organisasi dan lingkungannya.
  5. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan semua tingkat manajemen dan suatu pemahaman dasar terhadap masalah fungsional lainnya yang berhubungan dengan teknik, produksi, pembelian, hubungan masyarakat dan pemasaran.
  6. Kemampuan untuk menyatakan ide dengan jelas, secara tertulis ataupun dalam penyajian yang informative.
  7. Kemampuan menggerakkan orang-orang lain untuk mencapai tindakan dan hasil yang positif.

STRUKTUR ORGANISASI UNTUK CONTROLLERSHIP YANG EFEKTIF

Suatu organisasi yang efektif dajpat didefinisikan sebagai suatu kelompok individu yang bekerja sama mengambil tindakan-tindakan yang dapat mencapai suatu tujuan umum. Dalam membentuk suatu team akuntansi yang dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan manajemen secara tepat waktu, controller harus mempertibangkan setidak-tidaknya tiga factor berikut ini.

  1. Struktur organisasi yaitu pengelompokan yang wajar dri fungsi-fungsi untuk dapt melaksanakan tugas-tugas secara paling efektif, penetapn hubungan-hubungan yang wajar di dalam keompok yang bersangkutan dan dalam perusahaan secara keseluruhan dan menjamin adanya unsure-unsur pengendalian yang wajar.
  2. Pendelegasian tanggungjawab dan kewenangan yang wajar kepada setiap tingkat organisasi dan setiap unit.
  3. Seleksi individu-individu yang tepat untuk setiap pekerjaan.

ORGANISASI AKUNTANSI YANG DISENTRALISASIKAN VS YANG DIDESENTRALISASIKAN

Perusahaan yang mempunyai cabang-cabanglah yang terutama menghadapi masalah desentralisasi. Desentralisasi yang dimaksudkan di sini berhubungan dengan kecenderungan untuk memusatkan kewenangan yang semakin besar kepada para pejabat rendahan bidang operasi yang terletak pada lokasi-lokasi yang jauh. Tentunya jelas bahwa sentralisasi berhubungan dengan kecenderungan untuk memusatkan kewenangan pengendalian yang semakin besar pada pimpinan kantor pusat.

Terdapat mungkin lima pertimbangan yang mempengaruhi pengambilan keputusan mengenasi derajat sentralisasi pada struktur akuntansi yaitu :

  1. Filasafat manajemen mengenai tanggungjawab divisi
  2. Ketersediaan  data operasi
  3. Besarnya divisi atau unit operasi
  4. Lokasi geografis dati unit operasi
  5. Ekonomis tidaknya situasi

PENDELEGASIAN TANGGUNG JAWAB DAN KEWENANGAN

Suatu masalah sulit yang dihadapi setiap controller dan sesungguhnya setiap pimpinan,adalah yang menyangkut sejauh mana dia dapat mendelegasikan tanggungjawab dan kewenangannya. Oleh karena itu, dia harus melimpahkan kewenangan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu dan melimphkan tanggungjawab untuk pelaksanaannya, meskipun pada akhirnya controller harus tetap memikul tanggung jawab. Hanya melalui pendelagasian yang demikianlah dia dapat membebaskan diri sehingga dapat memnyumbangkan waktu dan tenaganya terutama pada hal-hal yang paling dapat melayanu kepentingan manajemen.

KEWENANGAN CONTROLLER TERHADAP KEGIATAN AKUNTANSI DAN STATISTIK

Suatu masalah organisasi yang akan diselesaikan dengan jelas adalah mengenai kewenangan controller dan ini mencakup dua pertanyaan berikut: (1) apakah kantor atau pabrik cabang didasarkan pada akuntansi yang didesentralisir, apakah kewenangan yang harus dimkiliki controller perusahaan dalam hubungannya dengan manajer divisi dan controller divisi? Dan (2) apakah kewenangan yang harus dimiliki controller mengenai kegiatan akuntansi statistic, atau lain-lain yang tidak berada di bawah departemennya ? jawaban umum terhadap kedua pertanyaan tersebut ialah bahwa controller harus memiliki pengendalian fungsional control dan tanggung jawab untuk seluruh catatan.

PRINSIP DAN PRAKTEK AKUNTANSI

PRINSIP AKUNTANSI YANG LAZIM DITERIMA

Lazim menurut definisi berarti pada umumnya, umum, biasa secara ekstensif atau luas, dan paling sering menunjukkan suatu praktek yang agak universal. Sesuai dengan itu maka suatu prinsip atau praktek akuntansi yang lazim diterima, yaitu yang paling sering atau secara luas diikuti dianggap mempunyai kewenangan kuat yang mendukungnya.

Inventory of generally accepted principles for business enterprises, dalam accounting research study no 7 mengemukakan definisi dari akuntansi sebagai berikut:

Akuntansi adalah kumpulan daripengetahuan dan fungsi-fungsi yang berhubungan denga pencarian asal mual, pembuktian keaslian, pencatatan, pengklasifikasian, pengolahan, pengikhtisaran, penganalisaan, pengintepretasian dan penyediaan informasi yang dapat diandalkan dan yang penting secara sistematis atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian yang setidak-tidaknya sebagian bersifat financial yang diperoleh untuk pengelolaan (management) dan pengoperasian dari suatu kesatuan dan untuk membuat laporan-laporan yang harus disajikan dalam memenuhi tanggungjawab yang dipercayakan kekpada kesatuan (entity) itu dan memenuhi tanggungjawab – tanggungjawab lainnya.

PENGEMBANGAN PRINSIP AKUNTANSI

Pengembangann prinsip-prinsip akuntansi yang lazim diterima telah merupakan suatu fungsi utama dari AICPA.

Aturan – aturan itu secara singkat dinyatakan sebagai berikut:

  1. Laba yang belum direalisir tidak boleh dikredit pada keuntungan apakah secara langsung ataupun tidak langsung dengan cara membebankan terhadap laba-laba yang belim direalisir, hal-hal yang biasanya akan dibebankan terhadap perkiraan keuntungan.
  2. Surplus modal, bagaimanapun terjadinya, tidak boleh dipergunakan untuk membebaskan perkiraan laba tahun sekarang atau yang akan datang dari beban-beban yang seyogyanya dibebankan terhadap pendapatan.
  3. Saldo laba yang ditahan yang telah terbentuk dalam suatu ank perusahaan sebelum diperoleh oleh induk perusahaan, bukan merupakan suatu bagian saldo laba yang ditahan dalam laporan konsolidasi perusahaan.
  4. Dividen-dividen atas treasury stock tidak boleh dikredit pada perkiraan pendapatan.
  5. Wesel tagih dan piutang kepada para pejabat, pegawai atau perusahaan – perusahaan afiliasi harus ditunjukkan secara terpisah.

FINANCIAL ACCOUNTING STANDARDS BOARD (FASB)

FASB sebagai perumus norma akuntansi keuangan merupakan suatu badan yang tidak berujuan mencari laba, yang terpisah dari badan-badan akuntansi yang telah ada, dan mempunyai sumber-sumber pembiayaan sendiri.

MENGUBAH PRINSIP DAN PRAKTENK AKUNTANSI

Akuntansi merupakan hal yang hakiki bagi pelaksanaan fungsi organisasi perusahaan secara efektif, dan prinsip-prinsip akuntansi harus berubah untuk memenuhi kebutuhan dinamis dari para pemasi, yaitu masyarakat  pada umumnya.

FASB telah memberi kesempatan bagi perusahaan untuk berpartisipasi dalam proses penetapan standard. Rekomendasi-rekomendasi dapat diajukan kepada financial accounting standards advisory council untuk diteliti dan dipertimbangkan. Council tersebut memainkan peranan penting dalam membantu board (FASB) untuk mengidentifikasikan masalah – masalah akuntansi yang memerlukan norma-norma. Sesuai dengan proses yang harus ditempuh untuk melakukan perubahan-perubahan dalam prinsip-prinsip akuntansi, maka satu unit kerja dari board perlu melakukan riset yang ekstensif atas sesuatu masalah dan menyiapkan suatu nota diskusi yang menganalisa berbagai pokok persoalan yang terlibat. Baik board FASB maupun unit kerjanya sama – sama tidak mencoba memberi kesimpulan apapun mengenai pokok-pokok dan menganai argumentasi serta implikasi yang dikemukakan dalam nota diskusi.

KERANGKA KONSEPSIONAL

Ketua FASB Donald J. Kirk, menyatakan:

Statements of financial accounting standards dari FASB yang ada sampai sekarang telah dikembangkan secara kasus demi kasus. Akan tetapi dalam menangani masalah – masalah akuntansi, board telah mengenal sejak berdirinya, kebutuhan untuk mengembangkan suatu kerangka kerja tetap. Perselisihan politis yang terjadi berulang-ulang mengenai proses akuntnasi telah terjadi sebagian besar dari kurangnya persesuaian umum tentang pokok-pokok persoalan seperti tujuan-tujuan pelaporan financial, definisi mengenai unsure-unsur laporan keuangan, yang meliputi harta, hutang dan pendapatan serta basis-basis pengukuran akuntansi, yang meliputi pelaporan mengenai akibat inflasi.

“ scope and implications  of the conceptual framework project” memberikan pandangan singkat tentang “tentative conclusions on objectives of financial statements” dati boards (FASB) dan tentang nota diskusinya atas “ elements of financial  statement and their measurement”, yang secara singkat menemukakan pokok-pokok persoalan berikut:

  1. Mengapa diperlukan suatu kerangka konsepsional?
  2. Pengalokasian modal
  3. Keterandalan.
  4. Beberapa keuntungan khusus.
  5. Kesimpulan sementara.
  6. Unsure laporan keuangan.
  7. Karakteristik kualitatif dari informasi keuangan.
  8. Pengukuran terhadap unsur laporan keuangan.
  9. Apakah current value accounting merupakan suatu kesimpulan atau akibat yang tidak dapat dielakkan?
  10. Beberapa implikasi luas dari pandangan konsepsional terhadap laba.

Untuk menunjukkan arti dan pentingnya conceptual framework project, board dalam brosurnya telah menyatakan bahwa:

Karena proyek ini akan menetapkan arah tujuan dari akuntansi dan pelaporan financial selama bertahun-tahun, maka proyek ini perlu mendapat pertimbangan yang teliti dari semua pimpinan perusahaan dan masyarakat keuangan di amerika serika, tidak hanya para akuntan saja.

Proyek tersebut dapat melahirkan pernyataan FASB tentang hal-hal berikut:

  • Tujuan laporan keuangan.
  • Karakteristik kualitatif dari informasi laporan keuangan.
  • Unsur-unsur pokok akuntansi
  • Basis pengukuran
  • Satuan pengukuran

PERNYATAAN MENGENAI KONSEP AKUNTANSI KEUANGAN

FASB telah menerbitkan serangkaian pernyataan mengenai konsep akuntansi keuangan (statements of financial accounting concepts). Statements of financial accounting concepts no 1, “onjectives of financial reporting by business enterprises” telah diterbitkan pada bulan November 1978. Pokok-pokoknya adalah sebagai berikut:

  • Laporan keuangan itu sendiri bukan merupakan suatu tujuan kahir, tetapi ia dimaksudkan untuk menyediakan informasi yang berguna dalam membuat keputusan perusahaan dalam ekonomi.
  • Tujuan pelaporan financial tidak bersifat tetap, tetapi dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, hukum, politik, dan social di mana pelaporan financial itu terjadi.
  • Tujuan-tujuan tersebut juga dipengaruhi oleh karakteristik dan pembatasan – pemabatasan dari jenis informasi yang dapat disediakan melalui laporan financial.
  • Tujuan pernyataan ini adalah pelaporan financial ekstern oleh perusahaan untuk tujuan umum.
  • Tujuan tersebut menyatakan, bahwa laporan keuangan harus menyediakan informasi yagn berguna bagi para investor dan kreditor yang ada sekarang dan yang potensial serta para pemakai lain dalam membuat investasi yang rasional, mengambil keputusan kredit dan keputusan-keputusan lain yang serupa.
  • Istilah “ investor dan “kreditor” dipergunakan secara luas dan tidak hanya meliputi mereka yang mempunyai atau bermaksud mempunyai suatu tuntutan terhadap sumber daya perusahaan, tetapi juga mereka yang memberi advis atau mewakilinya.
  • Meskipun keputusan-keputusan investasi kredit mencerminkan pengharapan investor dan kreditor mengenai pelaksanaan perusahaan dimasa mendatang, tetapi pengharapan –pengharapan tersebut pada umumnya didasarkan )setidak-tidaknya pada evaluasi terhadap pelaksanaan perusahaan yang telah lalu.
  • Focus utama dari pelaporan keuangan adalah informasi mengenai pendapatan komponen-komponennya.
  • Informasi mengenai pendapatan perusahaan yang berdasarkan accrual accounting, pada umumnya menyediakan suatu indikasi yang lebih baik mengenai kemampuan sekarang .
  • Pelaporan keuangan diharapkan menyediakan informasi mengenai prestasi pelaksanaan keuangan suatu perusahaan selama suatu periode, dan mengenai bagaimana manajemen perusahaan telah melaksanakan tanggungjawab pengurusannya kepada para pemilik.
  • Akuntansi keuangan tidak direncanakan untuk mengukur secara langsung nilai dari suatu perusahaan, tetapi informasi yang disediakannya mungkin berguna bagi mereka yang ingin menaksir nilai tersebut.
  • Para investor, kreditor, dan lain-lain dapat mempergunakan pendapatan yang dilaporkan dan informasi mengenai unsur-unsur laproan keuangan dalam berbagai cara untuk memperkirakan prospek arus kas.
  • Pimpinan mengetahui lebih banyak mengenai perusahaan dan urusan-urusannya daripada para investor, kreditor atau “pihak-pihak luar lainnya”.

Sumber : https://merkbagus.id/